Senin, 10 Mei 2010

Manajemen Data Center


LDAP
LDAP adalah layanan jaringan komputer yang digunakan untuk mengelola user  yang akan menggunakan informasi data center. Pengelolaan ini harus memiliki kemampuan sebagai berikut.
  • Penambahan, penghapusan, dan pemblokiran (permanen ataupun sementara), dan modifikasi user  beserta hak aksesnya.
  • Membangkitkan password default pada user -user  yang baru dan meminta user  untuk mengganti password default yang diberikan.
  • Meminta user  untuk menggunakan password yang baik (sesuai kriteria ISO 17799-2005) dan menggati password secara berkala.
  • Mekanisme pengingat password yang aman bagi user  yang tidak dapat mengingat passwordnya.
SNMP merupakan protokol jaringan yang digunakan untuk memantau kondisi dari perangkat-perangkat yang terhubung ke jaringan komputer. Protokol ini dgunakan dalam data center DJPK secara menyeluruh untuk memudahkan pemantauan penggunaan resource secara terpusat dalam data center. Berikut merupakan aspek-aspek yang harus ada dalam data center, terkait dengan penggunaan SNMP.
  • Semua perangkat jaringan yang ada dalam data center harus mendukung SNMP.
  • Semua perangkat jaringan dikonfigurasi sebagai klien SNMP dalam sebuah komunitas SNMP yang tertutup, dilindungi oleh password dan dijaga kerahasiaannya.
  • Terdapat sebuah Server SNMP dan agent SNMP yang berfungsi sebagai pemantau kondisi setiap jaringan.
Berikut adalah beberapa resource komputasi dalam jaringan yang harus dipantau dalam data center DJPK .
  • Penggunaan bandwitdh dengan menggunakan MRTG.
  • Penggunaan CPU (CPU Loaded).
  • Penggunaan media penyimpanan (storage usage).
  • Penggunaan memori (memory usage).
  • Keberadaan suatu perangkat

Trend Industri IT

Tantangan yang banyak dihadapi CIO dan manager IT dewasa ini antara lain adalah:
  • Utilization infrastruktur IT yang cost-effective
  • Responsiveness dalam mendukung inisiatif bisnis yang baru
  • Flexibilitas dalam menyesuaikan perubahan organisasional
  • Iklim penganggaran IT yang mulai ketat
  • Pemenuhan peraturan yang semakin ketat.
Berikut ini adalah ringkasan dari Trend Teknologi Informasi :

Secara garis besar Trend Sistem Informasi semakin bergeser dari Teknis IT ke arah peningkatan bisnis value dan peningkatan service terhadap operasional. Aplikasi-aplikasi semuanya dibuat simple dan diarahkan kepada peningkiatan terhadap business value. Didalam Infrastruktur IT, konsep virtualisasi juga merupakan trend, dimana virtualisasi sebenarnya bukan barang baru. Dalam dunia IT, virtualisasi memiliki arti secara luas sebagai pemisahan suatu sumber-daya (resource) dari barang fisiknya. Misalnya pada virtual memory, software komputer mendapatkan akses memori yang lebih dibanding yang tersedia secara fisik (RAM) melalui pertukaran data antara memori dengan media penyimpan (hard disk). Mirip dengan itu, teknik virtualisasi dapat diterapkan untuk layer infrastruktur IT lainnya seperti network, penyimpanan, hardware laptop atau server, operating system maupun juga aplikasi.
Campuran/gabungan dari teknologi virtualisasi ini memberikan sebuah layer abstrak antara hardware komputasi, penyimpanan, network dengan aplikasi yang berjalan pada hardware tersebut. Secara sederhananya, konsep ini memungkinkan beberapa operating system dapat dijalankan secara bersamaan pada sistem yang fisiknya hanya tunggal, dan berbagi sumber-daya (resource) hardwarenya secara bersamaan.
Virtualisasi sudah menjadi bagian dari dunia IT selama beberapa dekade. Hanya saja teknik ini hanya diterapkan pada komputer jenis mainframe seperti IBM OS/390, z/VM, z/OS, dan platform iSeries dan pSeries, serta HP 9000. Yang menjadi baru dan membuat perbedaan mendasar antara virtualisasi jaman dahulu dengan sekarang adalah kemampuan komputer berarsitektur x86 skala kecil maupun menengah yang dapat menjalankan konsep ini dengan mudah dan murah. Bahkan, komputer desktop PC, dan juga laptop-pun sudah mampu menjalankan virtualisasi dengan kinerja yang baik.
Berikut adalah keuntungan yang dapat diperoleh dari virtualisasi :
  • Server Consolidation: pengurangan jumlah (box count) infrastruktur yang harus dikelola dengan cara menarik harware yang lama dan applikasi lama yang masih diperlukan namun membutuhkan hardware khusus. Ini memberikan keuntungan pada jumlah system yang berkurang dan cost yang  terkait dengannya seperti: Tenaga Listrik, Pendingin, Ruang rack-space dll yang semakin hari justru membutuhkan biaya yang semakin tinggi dan berbanding terbalik dengan harga hardware untuk virtualisasi.
  • Server Containment: Dengan virtualisasi, kebutuhan suatu proyek akan hardware dapat dipenuhi melalui software dahulu, sehingga pembelian hardware dapat ditunda sambil melihat kebutuhan loadnya kelak.

  • Business Continuity, Disaster Recovery: Denga cara mempaketkan seluruh sistem kedalam satu file akan memudahkan replikasi dan restorasi pada target server manapun sehingga mengurangi downtime
  • Test & Development Optimization: Dengan menggunakan pre-configured sistem, dapat meningkatkan kolaborasi antar developer, dan menstandarkan lingkungan development.
  • Mengubah cara sistem diatur: Virtualisasi memisahkan (decouple) operating system dengan hardwarenya, sehingga memungkinkan mengatur dan mengawasi sistemnya secara offline, dan dalam lingkungan yang tidak mengganggu aplikasi online. Ini memungkinkan aplikasi dipindah dari satu server ke server lainnya, dan suatu operating system dapat dipatch saat dalam kondisi offline.

Minggu, 09 Mei 2010

LEVEL SISTEM INFORMASI


Level dari Sistem Informasi umumnya dibagi menjadi 4 (empat) level, terdiri dari level paling dasar sampai dengan paling atas sebagai berikut :
1.          Tingkat pertama : Office Automation; terdiri dari file-file office seperti Power Point, Spread sheet Microsoft Excel, pengolah kata Microsoft Word, juga Colaboration Portal yang dapat dipergunakan untuk mengakases email, diskusi forum, dokumen management dan sharing dokumen antar unit kerja.
2.          Tingkat kedua : Transaksional; sistem informasi disini terdiri dari aplikasi-aplikasi transaksional berbasis database. Aplikasi-aplikasi ini melakukan pekerjaan operasional dan umumnya sudah terotomatisasi umumnya inputnya banyak dan outputnya juga banyak, berupa laporan-laporan operasional.
3.          Tingkat ketiga : Decision Support System (DSS); Aplikasi-aplikasi disini terdiri dari aplikasi-aplikasi yang sifatnya untuk pengambilan keputusan tingkat manajemen, inputnya diambil dari level dibawahnya, Outputnya berupa Spreadhseet atau grafik hasis analisis. Aplikasi tersebut diantaranya adalah Online Analytical Processing (OLAP). Pada tingkat ini juga sudah tersedia adanya datawarehouse organisasi.
4.          Tingkat keempat : Executive Information System (EIS) ; Aplikasi-aplikasi disini umumnya berbentuk monitoring dan evaluasi kinerja, diantaranya adalah aplikasi berbentuk Dashboard.
Gambar  Level Sistem Informasi

 

Strategic Grid Mc-Farlan


Model pemetaan McFarlan bertujuan untuk menganalisis suatu aplikasi atau sistem informasi di suatu operasional Organisasi berdasarkan kondisi saat ini, kondisi yang direncanakan serta aplikasi-aplikasi yang dianggap berpotensi dalam menunjang bisnis operasional Badan Diklat Perhubungan.  Pemetaan tersebut dibagi atas kategori yang didefinisikan sebagai berikut :
Kuadran 1 merupakan kuadran Support.
Kuadran 2 merupakan kuadran Operational.
Kuadran 3 merupakan kuadran High Potential.
Kuadran 4 merupakan kuadran Strategic.




Pemetaan ini mempermudah operasional pihak manajemen untuk mengambil keputusan dalam menentukan posisi sistem teknologi informasi operasional Organisasi di dalam kuadran tersebut serta keinginan operasional Organisasi dalam menentukan ke arah mana sistem informasi akan dipenuhi yang tentunya disesuaikan dengan kapabilitas dan visi serta misi operasional Organisasidi masa yang akan datang. 
Kuadran ini merupakan kuadran dimana setiap sistem informasi yang ada adalah aplikasi-aplikasi yang mendukung terhadap aktifitas transaksi bisnis operasional Badan Diklat Perhubungan.  Namun keberadaan sistem informasi ini tidak memberikan pengaruh yang besar apabila terdapat kerusakan atau kegagalan pada sistem.  Meskipun sistem informasi yang terdapat pada kuadran ini bersifat penting bagi operasional Organisasi namun ketergantungan operasional Organisasi terhadap aplikasi sangat kecil.  Hal ini menunjukkan bahwa operasional Organisasi tidak menganggap keberadaan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya.  Dalam arti, bahwa keberadaan teknologi bagi operasional Organisasi dianggap tidak mempengaruhi kelangsungan bisnis.  Pada kuadran ini operasional Organisasi masih menganggap teknologi informasi sebagai cost center.  Integrasi pada kuadran ini umumnya hanya dipentingkan untuk sistem informasi yang berhubungan dengan transaksi pada proses bisnis  keuangan dan akuntansi.
Kuadran ini merupakan posisi dimana, sistem informasi sangat memberikan kemudahan atau operasional Badan Diklat Perhubungan. Pada tahap ini sudah disadari bahwa kelangsungan bisnis cukup dipengaruhi oleh keberadaan teknologi informasi, meskipun kuadran ini masih belum menunjukkan bahwa teknologi informasi berperan utama dalam mempengaruhi kelangsungan bisnis. Sehingga dapat dikatakan bahwa posisi ini merupakan kumpulan sistem informasi yang dioperasikan dalam menjalankan aktifitas bisnis utama.  Dengan demikian pada kuadran operational ini, ketergantungan operasional Organisasi terhadap penggunaan teknologi informasi sangat besar, namun penggunaan teknologi informasi pada kuadran ini hanya untuk memenuhi kebutuhan proses bisnis internal saja.  Integrasi pada kuadran ini sudah cukup dipertimbangkan dengan mengutamakan pada informasi-informasi yang berhubungan dengan siklus pendapatan (Revenue Cycle) dan siklus pengeluaran (Expenditure Cycle) bagi operasional Organisasi tersebut.
Kuadran ini merupakan kuadran dimana sistem informasi bukan hanya dianggap penting bagi kelangsungan dan proses bisnis internal, tetapi juga proses bisnis yang terjadi pada transaksi atau aktifitas bisnis eksternal operasional Badan Diklat Perhubungan.  Pada kuadran ini pula, kebutuhan terhadap sistem informasi atau teknologi informasi dianggap sebagai competitive value bagi kelangsungan bisnis operasional Badan Diklat Perhubungan, dengan demikian sistem informasi ini  berpotensi terhadap kesuksesan pada kelangsungan bisnis di masa yang akan datang.  Integrasi pada kuadran ini tidak hanya dipertimbangkan namun sudah menjadi kebutuhan dalam mendukung kesuksesan bisnis yang sedang dijalankan.  Dengan demikian integrasi pada kuadran ini sudah melibatkan integrasi keseluruhan  proses bisnis operasional Badan Diklat Perhubungan.
Kuadran ini merupakan kuadran dimana sistem informasi dianggap berpengaruh  signifikan terhadap kelangsungan bisnis di masa yang akan datang.  Bahkan kuadran ini memungkinkan operasional Organisasi untuk mempertimbangkan dalam mempertahankan kesuksesan menjalankan kelangsungan bisnis.  Sistem informasi pada kuadran ini sangat menentukan terhadap kesuksesan yang dicapai oleh operasional Badan Diklat Perhubungan, sehingga teknologi informasi dan sistem informasi tidak menjadi cost center tetapi sudah menjadi service center, bahkan berperan utama dalam menentukan kesuksesan bisnis operasional Badan Diklat Perhubungan.  Integrasi tidak hanya untuk mempermudah proses bisnis dan transaksi bisnis namun juga digunakan untuk menentukan langkah bisnis dalam mempertahankan kesuksesan di masa yang akan datang.

Konsep Sistem E - Pembelajaran berbasis Teknologi Informasi

Studi pengembangan TI  baik di negara maju dan berkembang menunjukkan setidaknya ada (empat) pendekatan dimana sistem dan institusi penyelenggara pendidikan dan pelatihan melakukan proses adopsi dan pemanfaatan TIK. Keempat pendekatan ini memiliki terminologi dan tahapan sebagai berikut: emerging, applying, infusing, dan transforming.
 
 ·      Pendekatan Emerging
Dalam pendekatan ini, pada tahap-tahap awal pengembangan TI pada dasarnya mengikuti pola pendekatan emerging. Dimana organisasi  mulai melakukan pemesanan (atau diberi donasi/bantuan) berupa peralatan komputer dan aplikasi (software). Pada tahap awal ini, pengelola mulai mengeksplorasi kemungkinan dan konsekuensi pemanfaatan TI bagi manajemen Organisasi dan bagaimana ketika mengintergrasikannya dengan kurikulum pendidikan & pelatihan. Organisasi pada tahap ini masih bersifat tradisional dan memiliki paradigma teacher-centered, yaitu masih berpusat pada pengajar. Pengajar masih dianggap sebagai ahli yang tahu segalanya dan berperan sentral dalam proses belajar mengajar. Pada masa ini sudah muncul perhatian (awareness) terhadap penggunaan TI. Hasil dari pematangan pada tahap ini adalah kesiapan Organisasi untuk beranjak ketahap selanjutnya, yaitu applying.

·      Pendekatan Applying
Organisasi dengan pemahaman baru mengenai kontribusi TI pada proses pembelajaran telah mengembangkan sebuah contoh bagaimana pendekatan applying dilakukan. Pada tahap ini, pengelola TI dan para pengajar menggunakan TI untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah ditetapkan oleh   manajemen Organisasi dan apa-apa yang telah tercantum dalam kurikulum. Para pengajar mendominasi lingkungan pembelajaran.
Organisasi pada tahap ini mengadaptasikan kurikulum dengan pemanfaatan TI pada berbagai bidang (subject areas) dengan tools dan perangkat lunak yang spesifik. Hasil dari pematangan pada tahap ini adalah kesiapan Organisasi untuk beranjak ketahap selanjutnya, yaitu infusing.

·      Pendekatan Infusing
Contoh-contoh pekerjaan yang termasuk dalam wilayah kurikulum menunjukkan penggunaan TIK yang lintas bidang sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan di dunia nyata dan untuk menyelesaikan permasalahan yang riil. Beberapa contoh menunjukkan bagaimana dalam beberapa bidang ajar, TI mampu membantu siswa dalam mengintegrasikan beberapa bidang ilmu, sebagai contoh; matematika, ilmu pengetahuan alam, dan seni.

·      Pendekatan Transforming
Pendekatan transforming dihubungkan dengan kondisi Organisasi yang telah memanfaatkan TI secara kreatif untuk memikirkan kembali dan memperbarui organisasi Organisasi. TI menjadi bagian integrasi walaupun berupa bagian invisible dari produktifitas individu sehari-hari serta praktik profesionalisme individu. Fokus dari kurikulum pada tahap ini adalah lebih kearah student-centered dan mengintegrasikan berbagai bidang ilmu pada proses aplikasi di dunia nyata.
Sebagai contoh, siswa dapat bekerja dengan pimpinan komunitas untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan lokal dengan cara mengakses, menganalisis, melaporkan mempresentasikan informasi dengan menggunakan TI sehingga Organisasi telah menjadi pusat pembelajaran bagi komunitas.

Pemetaan Kondisi TI


Pemetaan kondisi TI, dapat dilihat dari dua sisi yaitu :
·               Pemetaan kondisi proses pelayanan(core maupun support  service process).
·               Pemetaan kondisi TI (I/S, I/T, maupun I/M).
Sesuai dengan pemaparan dan penjelasan pada bab  awal berkaitan dengan aspek – aspek IT  maka untuk pemetaan kondisi IT Sekretaris Jenderal MPR RI saat ini tidak terlepas dengan aspe-aspek  IT tersebut yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Gambar Pemetaan Kondisi IT Saat ini dilihat dari Aspek-Aspek IT Strategic Grid McFarlan


Ketiga aspek-aspek TI yang dimaksud adalah :
·         IS (Information System)
¨       Aplikasi
¨       Data
·         IT (Infrasuruktur IT)
¨       Perangkat Keras
¨       Komunikasi Data
·         IM (IT Management)
¨       Kebijakan, Peraturan, SOP
¨       Pelayanan IT, Operasional IT
¨       SDM dan Organisasi IT
Perlu diketahui aspek-aspek IT tidak terlepas dari aspek proses pelayanan utama maupun proses pelayanan pendukung.